Powered By Blogger

Jumat, 25 Desember 2009

FRAKTUR & DISLOKASI

FRAKTUR

Definisi :
Fraktur / patah tulang  terputus¬nya kontinuitas jaringan tulang dan / atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (trauma).

Trauma :
1.Trauma langsung,
mis: benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna.

2.Trauma tidak langsung,
mis: jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma:
1. Kekuatan, dan arahnya.
2. Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat

Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dis¬lokasi.


KLASIFIKASI :

Berdasarkan hubungan dengan dunia luar :
1.Terbuka : Bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.

Derajat Luka Fraktur
I Laserasi< 2 cm Sederhana, dislokasi fragmen minimal

II Laserasi> 2 cm kontusi otot di
sekitarnya Dislokasi fragmen jelas

III Luka lebar, rusak Kominutif, segmental,
hebat atau hilangnya fragmen tulang ada yang hilang
jaringan di sekitarnya


Patah tulang terbuka
1. luka pada kulit. 2. ujung fraktur, 3. hematom

2.Tertutup : Antara fragmen-fragmen tulang tidak terdapat hubungan dengan dunia luar.

Berdasarkan garis patah :
1.Complete : Mengenai seluruh cortex
2.Incomplete : Mengenai satu sisi dari cortex

Berdasarkan jumlah garis patah
1.Simple : satu garis patah
2.Kominutif : lebih dari satu garis patah yang saling berhubungan.
3.Segmental : lebih dari satu garis patah yang saling tidak berhubungan.
4.Multiple : lebih dari satu garis patah pada tulang yang berbeda.

Berdasarkan arah garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma :
1.Garis patah melintang : trauma angulasi atau langsung.
2.Garis patah obliqua : trauma angulasi.
3.Garis patah spiral : trauma axial-flexi pada tulang spongiosa.
4.Fraktur avulsi : trauma tarikan traksi pada tulang.

Berdasarkan dislokasio
1.Fraktur Undisplaced (tidak bergeser)
Garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser fraktur displaced.
2.Fraktur Displaced (bergeser)
Terjadi pergeseran fragmen yang juga disebut dislokasio fragmen
Dislokasi ad longitudinam cum contrationum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping).
- Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentukan sudut)
- Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).

Dislokasi pada patah tulang :
A.Dislokasi ad latitudinem berarti dislokasi ke arah lintang,
B.Dislokasi ad longitudinem sehingga tulang memanjang mis: karena tarikan traksi
terlalu besar,
C.Dislokasi kum kontraktione sehingga tulang menjadi pendek umumnya disebabkan
tarikan dan tonus otot,
D.Contoh dislokasi ad longitudinem cum distractionem mis: pada patah tulang patela
karena tonus m.kuadriseps femoris,
E.Disiokasi ad axim sering ditemukan pada tulang panjang. Pada patah tulang distal
femur sering ditemukan dislokasi cum contractione karena tarikan otot paha yang
insersinya di tibia disertai dislokasi ad axim karena otot gastroknemius yang kuat
memfleksikan pecahan femur distal, 1. diafisis femur, 2. bagian distal femur yang
dibengkokkan oleh tarikan otot gastroknemius, 3. tibia yang ditarik ke arah
proksimal oleh otot (lihat panah), 4. patela, 5. ligamen patela, 6. tarikan otot
kuadriseps, 7. tarikan m.gastroknemius menyebabkan dislokasi ad axim pecahan femur
distal, S. otot biseps femur dan otot di sebelah dorsal paha turut menyebabkan
dislokasi dengan kontraksi,
F.Dislokasi ad peripheriam karena rotasi,
G.Kadang terdapat interposisi jaringan lunak di sela patah tulang yang menghalangi
penyembuhan,
H.Mungkin patah tulang disebabkan oleh tarikan pada inser¬si tendo otot atau
ligamentum yang disebut patah tulang avulsi. Mis: avulsi insersi tendo m.ekstensor
digitorum profundus di falang terminal jari tangan (H1) atau patah tulang mata
kaki karena tarikan ligamentum kolateral bila terperleset dan keseleo kaki (H2).

Berdasarakan lokasi
1.Tulang panjang
a. 1/3 proksimal
b. 1/3 tengah
c. 1/3 distal

2.Tulang letak melintang
a. 1/4 medial
b. 1/4 lateral

Jenis-jenis patah tulang:

A.Fisura tulang disebabkan oleh cedera tunggal hebat atau oleh cedera terus menerus
yang cukup lama seperti juga ditemukan pada retak stres pada struktur Iogam.
B.Patah tulang serong.
C.Patah tulang lintang.
D.Patah tulang kominutif oleh cedera hebat.
E.Patah tulang segmental karena cedera hebat.
F.Patah tulang dahan hijau; periost tetap utuh.
G.Patah tulang kompresi akibat kekuatan besar pada tulang pendek atau epifisis
tulang pipa,
H.Patah tulang impaksi; kadang juga disebut inklavasi,
I.Patah tulang impresi,
J.Patah tulang patologis akibat tumor tulang atau proses destruktif lain.


Satu bentuk patah tulang yang khusus pada anak adalah patah tulang yang mengenai cakram pertumbuhan.

Patah tulang yang mengenai cakram epifisis ini perlu menda¬pat perhatian khusus karena dapat meng¬akibatkan gangguan pertumbuhan. Patah tulang cakram epifisis ini dibagi menjadi lima tipe.

tipe 1: Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya masih
utuh
tipe 2: Periost robek di satu sisi sehingga epifisis dan cakram epifisis Iepas sama
sekali dari metafisis
tipe 3: Patah tulang cakram epifisis yang melalui sendi
tipe 4: Terdapat fragmen patahan tulang yang garis patahnya tegak lurus cakram
Epifisis
tipe 5: Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan kematian
dari sebagian cakram tersebut

DIAGNOSA
1.Anamnesa : riwayat trauma, jenisnya, besar ringannya, arah, posisi penderita,
mekanisme trauma, gangguan fungsi, dll.
2.Pemeriksaan umum, kemungkinan adanya kompliksai mis: shock pada fraktur multipel,
fraktur pelvis, atau fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka
terinfeksi, dll.
3.Pemeriksaan status lokalis : tanda-tanda klasik fraktur

Deformitas
1.Penonjolan yang abnormal
2.Angulasi
3.Rotasi
4.Pemendekan

Fungsio laesa
Hilangnya fungsi

FEEL
Terdapat nyeri tekan dan nyeri sumbu

MOVE
1.Krepitasi
2.Nyeri pada pergerakan aktif atau pasif
3.Gangguang fungsi, range of motion, kekakuan
4.Pemeriksaan radiologis

PENATALAKSANAAN

Pengelolaan patah tulang secara umum mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada umumnya yaitu :
1.Pertama dan uta¬ma adalah jangan cederai pasien (primum non nocere).
2.Kedua, pengobatan didasari atas diag¬nosis yang tepat dan prognosisnya.
3.Ketiga bekerja sama dengan hukum alam,
4.Ke¬empat memilih pengobatan dengan mem¬perhatikan setiap pasien secara individu.

Untuk patah tulangnya sendiri, prinsip¬nya :
1.Mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi)
2.Mem¬pertahankan posisi itu selama masa pe¬nyembuhan patah tulang (imobilisasi).
3.Re¬posisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan sepenuhnya seperti semula
karena tulang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan bentuknya kembali seperti
bentuk semula (remodelling/proses swapu¬gar).

Kaidah emas pada penanganan patah tulang
1.terlebih dahulu perhatikan adanya obstruksi jalan napas, perdarahan, syok, dan
kesadaran, barn periksa patah tulang
2.pasang bidai terlebih dahulu di tempat kecelakaan untuk menghindari cedera
jaringan lunak
3.hindari penanganan patah tulang yang tidak perlu
4.perhatikan adanya cedera saraf, motorik maupun sensorik, dan cedera pembuluh
darah, terutama pendarahan di distal patah tulang; catat data dengan waktunya
dan atur kontrol berkala
5.perhatikan juga adanya cedera lain seperti pneumotoraks, perdarahan dalam, dan
tanda cedera otak saat pengawasan berikutnya
6.walaupun tidak ada deformitas dan gangguan gerakan kemungkinan patah tulang
selalu ada; perhatikan anamnesis, palpasi, dan sifat nyeri
7.reposisi haruss dilakukan secepat mungkin, sedapat mungkin sebelum terjadi
bengkak dan udem (kecuali pergelangan kaki)
8.nyeri kontinyu sering disebabkan oleh iskemia kulit atau iskemia seluruh anggota
gerak
9.membelah gips sirkuler berarti membuka betul sampai kulit dan terlonggarkan
10.traksi harus sering ditengok untuk menghindari tarikan salah arah atau distraksi
11.yang tidak harus diimobilisasi harus bergerak secara teratur melalui mobilisasi
dan latihan
12.fraktur terbuka selalu merupakan luka dan patah tulang terkontaminasi
13.tujuan penanganan ialah tercapainya faal tanpa gangguan, yang berarti:
14.untuk anggota gerak atas: faal tangan, walaupun terjadi pemendekan atau
dislokasi di dalam batas tertentu
- untuk anggota gerak bawah: berdiri stabil dan berjalan sendiri tanpa nyeri;
pemendekan sedikit dapat diterima
15.berikan perhatian dan penanganan kepada penderita sesuai dengan kepribadiannya.
16.pemeriksaan Roentgen terdiri atas dua foto yang diambil dari dua arah; sebaiknya
foto ini juga diperiksa oleh anda sendiri, karena andalah yang kenal sang
penderita

Fase penyembuhan fraktur
1.Fase hematom
2.Fase proliferasi
3.Fase pembentukan callus
4.Fase konsolidasi
5.Fase remodelling

Penyembuhan patah tulang
A. Hematom segera setelah cedera
1. periost,
2. hematom,
B. Pembentukan kalus,
C. Penyatuan tulang,
D. Konsolidasi dan proses swapugar.

KOMPLIKASI PATAH TULANG
A.Komplikasi segera
1.Lokal
a.kulit: abrasi, laserasi, penetrasi
b.pembuluh darah: robek, Compartemen syndrome (Volk's ischemia)
c.sistem saraf: sumsum tulang belakang, saraf tepi motorik dan sensorik
d.otot
e.organ dalam: jantung, paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), kandung kemih
(pada fraktur pelvis).

2.Umum
a.rudapaksa muitipel
b.emboli lemak
c.syok: hemoragik, neurogenik

B.Komplikasi dini
1.Lokal
a.nekrosis kulit, gangren, sindrom kompartemen, trombosis vena, infeksi sendi,
osteomielitis

2.Umum
ARDS, emboli paru, tetanus

C.Komplikasi lama
1.Lokal
a.sendi: ankilosis fibrosa, ankilosis osal
b.tulang:
1.gagal taut / taut lama / salah taut
2.distrofi refleks
3.osteoporosis pascatrauma
4.gangguan pertumbuhan
5.osteomielitis
6.patah tulang ulang
c.otot/tendo: penulangan otot, ruptur tendon - saraf: kelumpuhan saraf lambat

2.umum
a.batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tempat tidur)


DISLOKASI :

Dislokasi adalah keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya.
Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera.

Diagnosis :

1.Anamnesis

a.Ada trauma
b.Mekanisme trauma yang sesuai, mis: trauma ekstensi dan eksorotasi pada
dislokasi anterior sendi bahu
c.Ada rasa sendi keluar
d.Bila trauma minimal, hal ini dapat terjadi pada dislokasi rekurens atau habitual

2.Pemeriksaan klinis

a.Deformitas
1.Hilangnya tonjolan tulang yang normal, mis: deltoid yang rata pada dislokasi bahu
2.Pemendekan atau pemanjangan (mis: dislokasi anterior sendi panggul)
3.Kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu, mis: dislokasi posterior sendi
panggui kedudukan panggul endorotasi, fleksi, clan aduksi.

b.Nyeri
c.Functio laesa, misalnya bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu.

3.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi untuk memastikan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur.

4.Penatalaksanaan
a.Lakukan reposisi segera.
b.Dislokasi sendi kecil dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anestesi,
misalnya dislokasi siku, dislokasi bahu, dislokasi jari (pada fase syok).
Dislokasi bahu,siku, atau jari dapat direposisi dengan anestesi lokal dan obat
penenang misalnya valium.
c.Dislokasi sendi besar, mis: panggul memerlukan anestesi umum.


Beberapa contoh dislokasi :

A.Luksasi rahang bawah ke depan akibat menguap atau membuka mulut lebar. Luksasi ke
belakang biasanya disebabkan cedera dari depan dan sering disertai patah, leher
tulang rahang bawah,
B.Dislokasi antara korpus vertebra. Spondilolistesis traumatik memang sefalu
disertai dengan patah tulang prosesus artikularis dan penderita terancam cedera
lintang sumsum belakang,
C.Luksasi tulang lunatum merupakan cedera berat di pergelangan tangan,
D.Luksasi sendi bahu ke depan merupakan dislokasi yang sering ditemukan karena
kedangkalan mangkok sendi, kelonggaran simpai sendi, dan lingkup gerak sendi bahu
yang luas,
E.Dislokasi panggul lebih jarang ditemukan karena mangkok sendi amat dalam, simpai
sendi lebih sempit dan kokoh dan lingkup gerak lebih terbatas bila diban¬dingkan
dengan sendi peluru bahu,
F.Luksasi tibia talus ke dorsal merupakan trauma berat yang mem¬butuhkan imobilisasi
lama setelah reposisi, karena sendi ini merupakan sendi yang harus menopang beban
berat besar,
G.Dislokasi siku ke depan,
H.Dislokasi lutut ke depan.

Ns.Eka Dedy Prasetyawan, S.kep

Tidak ada komentar:

Posting Komentar