Powered By Blogger

Minggu, 07 Februari 2010

Mari Membangun Lampung Menuju Sehat

Mari Membangun Lampung Menuju Sehat, Tingkatkan kinerja mu Demi lampung mu tercinta

Jumat, 05 Februari 2010

Atresia Bilier

Atresia Bilier adalah suatu keadaan dimana saluran empedu tidak terbentuk atau tidak berkembang secara normal.

Fungsi dari sistem empedu adalah membuang limbah metabolik dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna lemak di dalam usus halus.
Pada atresia bilier terjadi penyumbatan aliran empedu dari hati ke kandung empedu. Hal ini bisa menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati, yang jika tidak diobati bisa berakibat fatal.

PENYEBAB
Atresia bilier terjadi karena adanya perkembangan abnormal dari saluran empedu di dalam maupun diluar hati. Tetapi penyebab terjadinya gangguan perkembangan saluran empedu ini tidak diketahui.
Atresia bilier ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran.

GEJALA
Gejala biasanya timbul dalam waktu 2 minggu setelah lahir, yaitu berupa:
- air kemih bayi berwarna gelap
- tinja berwarna pucat
- kulit berwarna kuning
- berat badan tidak bertambah atau penambahan berat badan berlangsung lambat
- hati membesar.

Pada saat usia bayi mencapai 2-3 bulan, akan timbul gejala berikut:
- gangguan pertumbuhan
- gatal-gatal
- rewel
- tekanan darah tinggi pada vena porta (pembuluh darah yang mengangkut darah dari lambung, usus dan limpa ke hati).

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Pada pemeriksaan perut, hati teraba membesar.

1. Pemeriksaan yang biasa dilakukan: Pemeriksaan darah (terdapat peningkatan kadar bilirubin)
2. USG perut
3. Rontgen perut (tampak hati membesar)
4. Kolangiogram
5. Biopsi hati
6. Laparotomi (biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan).

PENGOBATAN
Prosedur yang terbaik adalah mengganti saluran empedu yang mengalirkan empedu ke usus. Tetapi prosedur ini hanya mungkin dilakukan pada 5-10% penderita.

Untuk melompati atresia bilier dan langsung menghubungkan hati dengan usus halus, dilakukan pembedahan yang disebut prosedur Kasai.
Pembedahan akan berhasil jika dilakukan sebelum bayi berusia 8 minggu.
Biasanya pembedahan ini hanya merupakan pengobatan sementara dan pada akhirnya perlu dilakukan pencangkokan hati.

Jumat, 29 Januari 2010

Trauma Kepala / Fraktur Dasar Tengkorak (Basis Cranii) dan Pengkajian Fisik Keperawatan

Head injury (Trauma kepala) termasuk kejadian trauma pada kulit kepala, tengkorak atau otak.
Batasan trauma kepala digunakan terutama untuk mengetahui trauma cranicerebral, termasuk gangguan kesadaran.
Kematian akibat trauma kepala terjadi pada tiga waktu setelah injury yaitu :
1.Segera setelah injury.
2.Dalam waktu 2 jam setelah injury
3.rata-rata 3 minggu setelah injury.
Pada umumnya kematian terjadi setelah segera setelah injury dimana terjadi trauma langsung pada kepala, atau perdarahan yang hebat dan syok. Kematian yang terjadi dalam beberapa jam setelah trauma disebabkan oleh kondisi klien yang memburuk secara progresif akibat perdarahan internal. Pencatatan segera tentang status neurologis dan intervensi surgical merupakan tindakan kritis guna pencegahan kematian pada phase ini. Kematian yang terjadi 3 minggu atau lebih setelah injury disebabkan oleh berbagai kegagalan sistem tubuh
Faktor 2 yang diperkirakan memberikan prognosa yang jelek adalah adanya intracranial hematoma, peningkatan usia klien, abnormal respon motorik, menghilangnya gerakan bola mata dan refleks pupil terhadap cahaya, hipotensi yang terjadi secara awal, hipoksemia dan hiperkapnea, peningkatan ICP.
Diperkirakan terdapat 3 juta orang di AS mengalami trauma kepala pada setiap tahun. Angka kematian di AS akibat trauma kepala sebanyak 19.3/100.000 orang. Pada umumnya trauma kepala disebabkan oleh kecelakaan laluintas atau terjatuh.
Jenis Trauma Kepala :
1. Robekan kulit kelapa kepala.
Robekan kulit kepala merupakan kondisi agak ringan dari trauma kepala. Oleh karena kulit kepala banyak mengandung pembuluh darah dengan kurang memiliki kemampuan konstriksi, sehingga banyak trauma kepala dengan perdarahan hebat. Komplikasi utama robekan kepala ini adalah infeksi.
2. Fraktur tulang tengkorak.
Fraktur tulang tengkoran tengkorak sering terjadi pada trauma kepala. Beberapa cara untuk menggambarkan fraktur tulang tengkorak :

a.Garis patahan atau tekanan.
b.Sederhana, remuk atau compound.
c.Terbuka atau tertutup.

Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau sampai menembus kedalam lapisan otak. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada kecepatan pukulan, moentum, trauma langsung atau tidak.
Pada fraktur linear dimana fraktur terjadi pada dasar tengkorak biasanya berhubungan dengan CSF. Rhinorrhea (keluarnya CSF dari hidung) atau otorrhea (CSF keluar dari mata).
Ada dua metoda yang digunakan untuk menentukan keluarnya CSF dari mata atau hidung, yaitu melakukan test glukosa pada cairan yang keluar yang biasanya positif. Tetapi bila cairan bercampur dengan darah ada kecenderungan akan positif karena darah juga mengadung gula. Metoda kedua dilakukan yaitu cairan ditampung dan diperhatikan gumpalan yang ada. Bila ada CSF maka akan terlihat darah berada dibagian tengah dari cairan dan dibagian luarnya nampak berwarna kuning mengelilingi darah (Holo/Ring Sign).
Komplikasi yang cenderung terjadi pada fraktur tengkorak adalah infeksi intracranial dan hematoma sebagai akibat adanya kerusakan menigen dan jaringan otak. Apabila terjadi fraktur frontal atau orbital dimana cairan CSF disekitar periorbital (periorbital ecchymosis. Fraktur dasar tengkorak dapat meyebabkan ecchymosis pada tonjolan mastoid pada tulang temporal (Battle’s Sign), perdarahan konjunctiva atau edema periorbital.
Commotio serebral :
Concussion/commotio serebral adalah keadaan dimana berhentinya sementara fungsi otak, dengan atau tanpa kehilangan kesadaran, sehubungan dengan aliran darah keotak. Kondisi ini biasanya tidak terjadi kerusakan dari struktur otak dan merupakan keadaan ringan oleh karena itu disebut Minor Head Trauma. Keadaan phatofisiologi secara nyata tidak diketahui. Diyakini bahwa kehilangan kesadaran sebagai akibat saat adanya stres/tekanan/rangsang pada reticular activating system pada midbrain menyebabkan disfungsi elektrofisiologi sementara. Gangguan kesadaran terjadi hanya beberapa detik atau beberapa jam.
Pada concussion yang berat akan terjadi kejang-kejang dan henti nafas, pucat, bradikardia, dan hipotensi yang mengikuti keadaan penurunan tingkat kesadaran. Amnesia segera akan terjadi. Manifestasi lain yaitu nyeri kepala, mengantuk,bingung, pusing, dan gangguan penglihatan seperti diplopia atau kekaburan penglihatan.

Contusio serebral
Contusio didefinisikan sebagai kerusakan dari jaringan otak. Terjadi perdarahan vena, kedua whitw matter dan gray matter mengalami kerusakan. Terjadi penurunan pH, dengan berkumpulnya asam laktat dan menurunnya konsumsi oksigen yang dapat menggangu fungsi sel.
Kontusio sering terjadi pada tulang tengkorak yang menonjol. Edema serebral dapat terjadi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan ICP. Edema serebral puncaknya dapat terjadi pada 12 – 24 jam setelah injury.
Manifestasi contusio bergantung pada lokasi luasnya kerusakan otak. Akan terjadi penurunan kesadaran. Apabila kondisi berangsur kembali, maka tingat kesadaranpun akan berangsur kembali tetapi akan memberikan gejala sisa, tetapi banyak juga yang mengalami kesadaran kembali seperti biasanya. Dapat pula terjadi hemiparese. Peningkatan ICP terjadi bila terjadi edema serebral.
Diffuse axonal injury.
Adalah injury pada otak dimana akselerasi-deselerasi injury dengan kecepatan tinggi, biasanya berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor sehingga terjadi terputusnya axon dalam white matter secara meluas. Kehilangan kesadaran berlangsung segera. Prognosis jelek, dan banyak klien meninggal dunia, dan bila hidup dengan keadaan persistent vegetative.
Injury Batang Otak
Walaupun perdarahan tidak dapat dideteksi, pembuluh darah pada sekitar midbrain akan mengalami perdarahan yang hebat pada midbrain. Klien dengan injury batang otak akan mengalami coma yang dalam, tidak ada reaksi pupil, gangguan respon okulomotorik, dan abnormal pola nafas.
Komplikasi :

Epidural hematoma.
Sebagai akibat perdarahan pada lapisan otak yang terdapat pada permukaan bagian dalam dari tengkorak. Hematoma epidural sebagai keadaan neurologis yang bersifat emergensi dan biasanya berhubungan dengan linear fracture yang memutuskan arteri yang lebih besar, sehingga menimbulkan perdarahan. Venous epidural hematoma berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan. Arterial hematoma terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal. Perdarahan masuk kedalam ruang epidural. Bila terjadi perdarahan arteri maka hematoma akan cepat terjadi. Gejalanya adalah penurunan kesadaran, nyeri kepala, mual dan muntah. Klien diatas usia 65 tahun dengan peningkatan ICP berisiko lebih tinggi meninggal dibanding usia lebih mudah.
Subdural Hematoma.
Terjadi perdarahan antara dura mater dan lapisan arachnoid pada lapisan meningen yang membungkus otak. Subdural hematoma biasanya sebagai akibat adanya injury pada otak dan pada pembuluh darah. Vena yang mengalir pada permukaan otak masuk kedalam sinus sagital merupakan sumber terjadinya subdural hematoma. Oleh karena subdural hematoma berhubungan dengan kerusakan vena, sehingga hematoma terjadi secara perlahan-lahan. Tetapi bila disebabkan oleh kerusakan arteri maka kejadiannya secara cepat. Subdural hematoma dapat terjadi secara akut, subakut, atau kronik.
Setelah terjadi perdarahan vena, subdural hematoma nampak membesar. Hematoma menunjukkan tanda2 dalam waktu 48 jam setelah injury. Tanda lain yaitu bila terjadi konpressi jaringan otak maka akan terjadi peningkatan ICP menyebabkan penurunan tingkat kesadaran dan nyeri kepala. Pupil dilatasi. Subakut biasanya terjadi dalam waktu 2 – 14 hari setelah injury.
Kronik subdural hematoma terjadi beberapa minggu atau bulan setelah injury. Somnolence, confusio, lethargy, kehilangan memory merupakan masalah kesehatan yang berhubungan dengan subdural hematoma.
Intracerebral Hematoma.
Terjadinya pendarahan dalamn parenkim yang terjadi rata-rata 16 % dari head injury. Biasanya terjadi pada lobus frontal dan temporal yang mengakibatkan ruptur pembuluh darah intraserebral pada saat terjadi injury. Akibat robekan intaserebral hematoma atau intrasebellar hematoma akan terjadi subarachnoid hemorrhage.
Collaborative Care.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memonitor hemodinamik dan mendeteksi edema serebral. Pemeriksaan gas darah guna mengetahui kondisi oksigen dan CO2.
Okdigen yang adekuat sangat diperlukan untuk mempertahankan metabolisma serebral. CO2 sangat beepengaruh untuk mengakibatkan vasodilator yang dapat mengakibatkan edema serebral dan peningkatan ICP. Jumlah sel darah, glukosa serum dan elektrolit diperlukan untuk memonitor kemungkinan adanya infeksi atau kondisi yang berhubungan dengan lairan darah serebral dan metabolisma.
CT Scan diperlukan untuk mendeteksi adanya contusio atau adanya diffuse axonal injury. Pemeriksaan lain adalah MRI, EEG, dan lumbal functie untuk mengkaji kemungkinan adanya perdarahan.
Sehubungan dengan contusio, klien perlu diobservasi 1 – 2 jam di bagian emergensi. Kehilangan tingkat kesadaran terjadi lebih dari 2 menit, harus tinggal rawat di rumah sakit untuk dilakukan observasi.
Klien yangmengalami DAI atau cuntusio sebaiknya tinggal rawat di rumah sakit dan dilakukan observasi ketat. Monitor tekanan ICP, monitor terapi guna menurunkan edema otak dan mempertahankan perfusi otak.
Pemberian kortikosteroid seperti hydrocortisone atau dexamethasone dapat diberikan untuk menurunkan inflamasi. Pemberian osmotik diuresis seperti mannitol digunakan untuk menurunkan edema serebral.
Klien dengan trauma kepala yang berat diperlukan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal dan mencegah kecacatan yang nmenetap. Dapat juga diberikan infus, enteral atau parenteral feeding, pengaturan posisi dan ROM exercise untuk mensegah konraktur dan mempertahankan mobilitas.

Perawat perlu mengenal tanda – tanda :
fraktur dasar tengkorak sulit dideteksi dengan foto rotgen kepala. Kalau perawat tidak mengetahui tanda – tanda tersebut pada saat melakukan pengkajian fisik tidak menutup kemungkinan terjadi kekurang hati – hatian sehingga data yang didapat tidak mencerminkan dari fraktur dasar tengkorak Oleh karena itu perawat perlu memahami tanda – tanda dari fraktur dasar tengkorak .

Tanda – tanda dari fraktur dasar tengkorak adalah :
- Otorrhea --> atau keluarnya cairan otak melalui telinga menunjukan terjadi fraktur pada petrous pyramid yang merusak kanal auditory eksternal dan merobek membrane timpani mengakibatkan bocornya cairan otak atau darah terkumpul disamping membrane timpani (tidak robek)
- Battle Sign (warna kehitaman di belakang telinga) : Fraktur meluas ke posterior dan merusak sinus sigmoid.
- Racoon atau pandabear: fraktur dasar tengkorak dari bagian anterior menyebabkan darah bocor masuk ke jaringan periorbital.

Selain tanda diatas fraktur basal juga diindikasikan dengan tanda – tanda kerusakan saraf cranial.
- Saraf olfaktorius, fasial dan auditori yang lebih sering terganggu. Anosmia dan kehilangan dari rasa akibat trauma kepala terutama jatuh pada bagian belakang kepala. Sebagian besar anosmia bersifat permanen
- Fraktur mendekati sella mungkin merobek bagian kelenjar pituitary hal ini dapat mengakibatkan diabetes insipidus
- Fraktur pada tulang sphenoid mungkin dapat menimbulkan laserasi saraf optic dan dapat menimbulkan kebutaan, pupil tidak bereaksi terhadap cahaya. Cedera sebagian pada saraf optic dapat menimbulkan pasien mengalami penglihatan kabur .
- Kerusakan pada saraf okulomotorius dapat dikarakteriskan dengan ptosis dan diplopia
- Kerusakan pada saraf optalmic dan trigeminus yang diakibatkan fraktur dasar tengkorak menyebrang ke bagian tengah fossa cranial atau cabang saraf ekstrakranial dapat mengakibatkan mati rasa atau Paresthesia
- Kerusakan pada saraf fasial dapat diakibatkan karena fraktur tranversal melalui tulang petrous dapat mengakibatkan facial palsy segera ,sedangkan jika fraktur longitudinal dari tulang petrous dapat menimbulkan fasial palsy tertunda dalam beberapa hari.
- Kerusakan saraf delapan atau auditorius disebabkan oleh fraktur petrous mengakibatkan hilang pendengaran atau vertigo postural dan nystagmus segera setelah trauma.
- Fraktur dasar melalui tulang sphenoid dapat mengakibatkan laserasi pada arteri karotis internal atau cabang dari intracavernous dalam hitungan jam atau hari akan didapat exopthalmus berkembang karena darah arteri masuk kes sinus dan bagian superior mengembung dan bagian inferior menjadi kosong dapat mengakibatkan nyeri
- Jika fraktur menimbulkan ke bagian meningen atau jika fraktur melalui dinding sinus paranasal dapat mengakibatkan bakteri masuk kedalam cranial cavity dan mengakibatkan meningitis dan pembentukan abses, dan cairan otak bocor kedalam sinus dan keluar melalui hidung atau disebut rinorhea. Untuk menguji bahwa cairan yang keluar dari hidung merupakan cairan otak dapat menggunakan glukotest dm (karena mucus tidak mengandung glukosa). Untuk mencegah terjadinya meningitis pasien propilaksis diberikan antibiotik.
- Penimbunan udara pada ruang cranial (aerocele) sering terjadi pada fraktur tengkorak atau prosedur –dapat menimbulakn pneumocranium

Demikian tentang tanda – tanda dari fraktur dasar tengkorak yang akan dijumpai saat perawat melakukan pengkajian fisik diharapkan data – data yang dikumpulkan menjadi representative dari fraktur dasar tengkorak

Sabtu, 26 Desember 2009

SATUAN PENYULUHAN GIZI IBU HAMIL.

GIZI IBU HAMIL


I.DASAR PEMIKIRAN
Didalam tubuh manusia terdapat banyak organ yang dalam kehidupan sehari-hari tidak henti-hentinya melakukan aktifitas guna mempertahankan kehidupan, dalam melakukan aktifitas tersebut tubuh sangat memerlukan energi. Energi tersebut didapat dari zat-zat makanan yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan meningkatnya aktifitas seseorang maka energi yang dibutuhkan juga semakin banyak, oleh karena itu zat-zat makanan yang dikonsumsi harus ditingkatkan.
Ibu hamil memerlukan nutrisi yang lebih banyak dibandingkan pada saat sebelum hamil, karena selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi dirinya ibu juga harus memenuhi kebutuhan gizi janin yang dikandungnya.
Pada saat ini angka kematian ibu dan bayi masih sangat tinggi. Kematian ibu dan bayi dapat terjadi karena adanya kelainan dan masalah dalam proses melahirkan atau pada proses perkembanagn janin saat masih dalam kandungan. Dari berbagai penyebab kematian ibu dan bayi ini, salah satu penyebab yang masih sering terjadi dan masih sangat kurang sekali diketahui oleh masyarakat adalah kematian ibu dan bayi sebagai akibat dari pemenuhan gizi yang kurang baik pada saat kehamilan. Oleh karena itu penulis menganggap perlu dilakukan suatu penyuluhan kepada ibu hamil tentang pentingnya pemenuhan gizi pada masa kehamilan, sehingga nantinya pengetahuan ibu akan semakin bertambah dan angka kematian ibu dan bayi dapat lebih ditekan seminimal mungkin.

II.TUJUAN
A.Tujuan Umum : Setelah dilakukan penyuluhan tentang penyakit gizi ibu hamil diharapkan ibu dan keluarga mengerti dan memahami tentang pentingnya pemenuhan gizi dimasa kehamilan, mau serta tergerak untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mengurangi resiko terjadinya masalah-masalah pada masa kehamilan.

B.Tujuan khusus : Setelah dilakukan penyuluhan tentang gizi ibu hamil, ibu
hamil dan keluarga dapat mengerti, menyebutkan dan menjelaskan
tentang:
1.Pengertian makanan bergizi
2.Triguna makanan bergizi
3.Peran makanan bergizi sebagai zat tenaga
4.Makanan yang mengandung zat tenaga
5.Peran makanan bergizi sebagai zat pembangun
6.Makanan yang mengandung zat pembangun
7.Peran makanan bergizi sebagai pengatur
8.Makanan yang mengandung zat pengatur
9.Manfaat makanan bergizi bagi ibu dan janin
10.Akibat kekurangan gizi pada ibu dan janin

II.SASARAN
Sasaran dari penyuluhan tentang gizi ibu hamil adalah ibu hamil dan keluarga di puskesmas Panjang

IV.TEMPAT dan WAKTU
Penyuluhan tentang gizi ibu hamil ini dilakukan pada :
Hari/tanggal : ……………………………
Waktu : ……………………………
Tempat : ……………………………
Lama : ……………………………

Alokasi waktu :
-Pembukaan : 5 menit
-Pre test : 5 menit
-Penyampaian materi : 15 menit
-Post test : 5 menit
-Penutup : 5 menit



III.METODE
Metode yang digunakan pada penyuluhan ini adalah :
a.Ceramah : materi gizi ibu hamil.
b.Diskusi (tanya jawab tentang gizi ibu hamil).

IV.MEDIA atau ALAT BANTU
Media yang digunakan adalah : Lembar balik/Leaf leat

V.STRATEGI PELAKSANAAN
A.PERSIAPAN
1.Membuatan Satuan Penyuluhan dengan materi Gizi Ibu Hamil, dengan menggunakan
referensi buku-buku yang dimiliki, maupun dari perpustakaan Jurusan Keperawatan
Poltekkes Tanjung Karang.
2.Membuat materi di Leaf Leat.
3.Membuat lembar balik
4.Melakukan pendekatan dan persiapan terhadap ibu hamil dan keluarganya.
5.Membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang cukup dan mempersiapkan mental serta
ketentraman untuk menyampaikan penyuluhan kepada ibu hamil dan keluarga.

B.PELAKSANAAN
1.Pembukaan, memberi salam kepada ibu hamil dan menanyakan kabar (3 menit).
2.Menjelaskan dasar pemikiran mengenai penyuluhan tentang Gizi Ibu Hamil (2 menit).
3.Mengadakan pretest secara langsung kepada ibu hamil, mengenai pengertian makanan
bergizi (5 menit).
4.Menerangkan secara singkat dan jelas mengenai makanan bergizi dengan menggunakan
alat peraga yang telah disediakan (15 menit).
5.Mengadakan post-test secara langsung kepada ibu hamil untuk mengetahui tingkat
pemahaman (5 menit).
6.Memberikan reinforcemen yang positif terhadap tanggapan ibu hamil dari pertanyaan
yang diberikan (2 menit).
7.Membagikan leaf leat.
8.Penutup, salam dan ucapkan terima kasih kepada ibu hamil dan keluarga karena telah
meluangkan waktu untuk mendengarkan penyuluhan dari mahasiswa. (3 menit)

VIII.KRITERIA EVALUASI

Hal-hal yang perlu di evaluasi dari penyuluhan tentang gizi ibu hamil menyangkut 2 hal, antara lain dari segi pelaksanaan dan materi.
Kriteria pelaksanaan :
1.Ibu hamil dapat mengikuti penyuluhan dari awal sampai selesai.
2.Penyuluh, keluarga serta klien aktif dalam proses penyuluhan.

Kriteria materi :
1.Ibu hamil dan keluarga dapat menerima materi yang disampaikan oleh penyuluh.
2.Ibu hamil dan keluarga dapat menjelaskan tentang pengertian dari makanan bergizi.
3.Ibu hamil dapat menyebutkan triguna makanan bergizi.
4.Ibu hamil dapat menyebutkan peran dari makanan bergizi sebagai zat tenaga dan
makanan yang mengandung zat tenaga.
5.Ibu hamil dapat menyebutkan peran dari makanan bergizi sebagai zat pembangun dan
makanan yang mengandung zat pembangun.
6.Ibu hamil dapat menyebutkan peran dari makanan bergizi sebagai zat pengatur dan
makanan yang mengandung zat pengatur.
7.Ibu hamil dapat menyebutkan manfaat dari makanan bergizi bagi ibu dan janin
8.ibu hamil dapat menyebutkan akibat dari kekurangan gizi bagi ibu dan janin

Lampiran Materi
MAKANAN BERGIZI

I.PENGERTIAN
Makanan bergizi adalah makanan yang didalamnya terkandung zat-zat yang berguna
bagi tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak dll.
Makanan bergizi dapat kita dapatkan dengan pola makan 4 sehat 5 sempurna dimana
didalamnya terdapat nasi, sayur, lauh pauk, buah dan susu.

II.TRIGUNA MAKANAN BERGIZI
Manfaat makanan bergizi dibagi menjadi 3 kelompok utama (triguna) yaitu :
1.Sebagai zat tenaga
2.Sebagai zat pembangun
3.Sebagai zat pengatur

III.PERAN SEBAGAI ZAT TENAGA
Makanan bergizi sebagai zat tenaga berperan dalam :
-Proses pembakaran sebagai sumber tenaga
-Untuk pembentukan jaringan baru

Contoh makanan yang mengandung zat tenaga adalah :
Beras, mentega, mie, talas, kue, ubi, jagung, sagu, terigu, roti, gula, minyak goreng, kentang dan singkong.

IV.PERAN SEBAGAI SUMBER ZAT PEMBANGUN
Sebagai zat pembangun, zat ini mempunyai peran antara lain :
-Membentuk plasenta dan jaringan tubuh yang baru
-meningkatkan pembentukan darah dan plasma
-Membentuk cairan ketuban selama kehamilan

Zat pembangun ini terkandung dalam makanan sebagai berikut :
Ikan, udang, kerang, kepiting, daging, ayam, hati, teluir, susu, keju, kacang-kacangan, tahu, tempe, teri.

V.PERAN SEBAGAI ZAT PENGATUR
Peran makanan bergizi sebagai zat pengatur adalah sebagai berikut :
-Melindungi tubuh dari serangan penyakit
-Mengatur kelancaran aktifitas

Makanan-makanan yang mengandung zat pengatur antara lain :
Semua jenis sayuran hijau dan buah-buahan segar seperti : Kangkung, bayam, daun singkong, wortel, pepaya, mangga, jeruk, daun singkong, kacang panjang, labu kuning, nangka, nanas.

VI.MANFAAT GIZI YANG CUKUP BAGI JANIN
Manfaat makanan bergizi bagi janin adalah :
-Untuk memenuhi kebutuhan janin
-Untuk perkembangan dan pertumbuhan tubuh janin
-Untuk menunjang perkembangan otak janin

VII.AKIBAT KEKURANGAN GIZI PADA IBU HAMIL
Apabila seseorang ibu tidak dapat memenuhi kebutuhan gizinya dan janinnya maka kemungkinan yang akan terjadi adalah sebagai berikut :
☼Ibu akan mengalami anemia
☼Ibu lemah, pucat, keguguran
☼Terjadi perdarahan pada saat kelahiran
☼Berat bayi lahir rendah
☼Bayi lahir mati
☼Kecacatan pada janin
☼Kemampuan intelektual kurang pada anak

Ns. Eka Dedy Prasetyawan, S.kep

Jumat, 25 Desember 2009

FRAKTUR & DISLOKASI

FRAKTUR

Definisi :
Fraktur / patah tulang  terputus¬nya kontinuitas jaringan tulang dan / atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (trauma).

Trauma :
1.Trauma langsung,
mis: benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna.

2.Trauma tidak langsung,
mis: jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.

Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma:
1. Kekuatan, dan arahnya.
2. Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat

Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dis¬lokasi.


KLASIFIKASI :

Berdasarkan hubungan dengan dunia luar :
1.Terbuka : Bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.

Derajat Luka Fraktur
I Laserasi< 2 cm Sederhana, dislokasi fragmen minimal

II Laserasi> 2 cm kontusi otot di
sekitarnya Dislokasi fragmen jelas

III Luka lebar, rusak Kominutif, segmental,
hebat atau hilangnya fragmen tulang ada yang hilang
jaringan di sekitarnya


Patah tulang terbuka
1. luka pada kulit. 2. ujung fraktur, 3. hematom

2.Tertutup : Antara fragmen-fragmen tulang tidak terdapat hubungan dengan dunia luar.

Berdasarkan garis patah :
1.Complete : Mengenai seluruh cortex
2.Incomplete : Mengenai satu sisi dari cortex

Berdasarkan jumlah garis patah
1.Simple : satu garis patah
2.Kominutif : lebih dari satu garis patah yang saling berhubungan.
3.Segmental : lebih dari satu garis patah yang saling tidak berhubungan.
4.Multiple : lebih dari satu garis patah pada tulang yang berbeda.

Berdasarkan arah garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma :
1.Garis patah melintang : trauma angulasi atau langsung.
2.Garis patah obliqua : trauma angulasi.
3.Garis patah spiral : trauma axial-flexi pada tulang spongiosa.
4.Fraktur avulsi : trauma tarikan traksi pada tulang.

Berdasarkan dislokasio
1.Fraktur Undisplaced (tidak bergeser)
Garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser fraktur displaced.
2.Fraktur Displaced (bergeser)
Terjadi pergeseran fragmen yang juga disebut dislokasio fragmen
Dislokasi ad longitudinam cum contrationum (pergeseran searah sumbu dan
overlapping).
- Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentukan sudut)
- Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).

Dislokasi pada patah tulang :
A.Dislokasi ad latitudinem berarti dislokasi ke arah lintang,
B.Dislokasi ad longitudinem sehingga tulang memanjang mis: karena tarikan traksi
terlalu besar,
C.Dislokasi kum kontraktione sehingga tulang menjadi pendek umumnya disebabkan
tarikan dan tonus otot,
D.Contoh dislokasi ad longitudinem cum distractionem mis: pada patah tulang patela
karena tonus m.kuadriseps femoris,
E.Disiokasi ad axim sering ditemukan pada tulang panjang. Pada patah tulang distal
femur sering ditemukan dislokasi cum contractione karena tarikan otot paha yang
insersinya di tibia disertai dislokasi ad axim karena otot gastroknemius yang kuat
memfleksikan pecahan femur distal, 1. diafisis femur, 2. bagian distal femur yang
dibengkokkan oleh tarikan otot gastroknemius, 3. tibia yang ditarik ke arah
proksimal oleh otot (lihat panah), 4. patela, 5. ligamen patela, 6. tarikan otot
kuadriseps, 7. tarikan m.gastroknemius menyebabkan dislokasi ad axim pecahan femur
distal, S. otot biseps femur dan otot di sebelah dorsal paha turut menyebabkan
dislokasi dengan kontraksi,
F.Dislokasi ad peripheriam karena rotasi,
G.Kadang terdapat interposisi jaringan lunak di sela patah tulang yang menghalangi
penyembuhan,
H.Mungkin patah tulang disebabkan oleh tarikan pada inser¬si tendo otot atau
ligamentum yang disebut patah tulang avulsi. Mis: avulsi insersi tendo m.ekstensor
digitorum profundus di falang terminal jari tangan (H1) atau patah tulang mata
kaki karena tarikan ligamentum kolateral bila terperleset dan keseleo kaki (H2).

Berdasarakan lokasi
1.Tulang panjang
a. 1/3 proksimal
b. 1/3 tengah
c. 1/3 distal

2.Tulang letak melintang
a. 1/4 medial
b. 1/4 lateral

Jenis-jenis patah tulang:

A.Fisura tulang disebabkan oleh cedera tunggal hebat atau oleh cedera terus menerus
yang cukup lama seperti juga ditemukan pada retak stres pada struktur Iogam.
B.Patah tulang serong.
C.Patah tulang lintang.
D.Patah tulang kominutif oleh cedera hebat.
E.Patah tulang segmental karena cedera hebat.
F.Patah tulang dahan hijau; periost tetap utuh.
G.Patah tulang kompresi akibat kekuatan besar pada tulang pendek atau epifisis
tulang pipa,
H.Patah tulang impaksi; kadang juga disebut inklavasi,
I.Patah tulang impresi,
J.Patah tulang patologis akibat tumor tulang atau proses destruktif lain.


Satu bentuk patah tulang yang khusus pada anak adalah patah tulang yang mengenai cakram pertumbuhan.

Patah tulang yang mengenai cakram epifisis ini perlu menda¬pat perhatian khusus karena dapat meng¬akibatkan gangguan pertumbuhan. Patah tulang cakram epifisis ini dibagi menjadi lima tipe.

tipe 1: Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya masih
utuh
tipe 2: Periost robek di satu sisi sehingga epifisis dan cakram epifisis Iepas sama
sekali dari metafisis
tipe 3: Patah tulang cakram epifisis yang melalui sendi
tipe 4: Terdapat fragmen patahan tulang yang garis patahnya tegak lurus cakram
Epifisis
tipe 5: Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan kematian
dari sebagian cakram tersebut

DIAGNOSA
1.Anamnesa : riwayat trauma, jenisnya, besar ringannya, arah, posisi penderita,
mekanisme trauma, gangguan fungsi, dll.
2.Pemeriksaan umum, kemungkinan adanya kompliksai mis: shock pada fraktur multipel,
fraktur pelvis, atau fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka
terinfeksi, dll.
3.Pemeriksaan status lokalis : tanda-tanda klasik fraktur

Deformitas
1.Penonjolan yang abnormal
2.Angulasi
3.Rotasi
4.Pemendekan

Fungsio laesa
Hilangnya fungsi

FEEL
Terdapat nyeri tekan dan nyeri sumbu

MOVE
1.Krepitasi
2.Nyeri pada pergerakan aktif atau pasif
3.Gangguang fungsi, range of motion, kekakuan
4.Pemeriksaan radiologis

PENATALAKSANAAN

Pengelolaan patah tulang secara umum mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada umumnya yaitu :
1.Pertama dan uta¬ma adalah jangan cederai pasien (primum non nocere).
2.Kedua, pengobatan didasari atas diag¬nosis yang tepat dan prognosisnya.
3.Ketiga bekerja sama dengan hukum alam,
4.Ke¬empat memilih pengobatan dengan mem¬perhatikan setiap pasien secara individu.

Untuk patah tulangnya sendiri, prinsip¬nya :
1.Mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi)
2.Mem¬pertahankan posisi itu selama masa pe¬nyembuhan patah tulang (imobilisasi).
3.Re¬posisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan sepenuhnya seperti semula
karena tulang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan bentuknya kembali seperti
bentuk semula (remodelling/proses swapu¬gar).

Kaidah emas pada penanganan patah tulang
1.terlebih dahulu perhatikan adanya obstruksi jalan napas, perdarahan, syok, dan
kesadaran, barn periksa patah tulang
2.pasang bidai terlebih dahulu di tempat kecelakaan untuk menghindari cedera
jaringan lunak
3.hindari penanganan patah tulang yang tidak perlu
4.perhatikan adanya cedera saraf, motorik maupun sensorik, dan cedera pembuluh
darah, terutama pendarahan di distal patah tulang; catat data dengan waktunya
dan atur kontrol berkala
5.perhatikan juga adanya cedera lain seperti pneumotoraks, perdarahan dalam, dan
tanda cedera otak saat pengawasan berikutnya
6.walaupun tidak ada deformitas dan gangguan gerakan kemungkinan patah tulang
selalu ada; perhatikan anamnesis, palpasi, dan sifat nyeri
7.reposisi haruss dilakukan secepat mungkin, sedapat mungkin sebelum terjadi
bengkak dan udem (kecuali pergelangan kaki)
8.nyeri kontinyu sering disebabkan oleh iskemia kulit atau iskemia seluruh anggota
gerak
9.membelah gips sirkuler berarti membuka betul sampai kulit dan terlonggarkan
10.traksi harus sering ditengok untuk menghindari tarikan salah arah atau distraksi
11.yang tidak harus diimobilisasi harus bergerak secara teratur melalui mobilisasi
dan latihan
12.fraktur terbuka selalu merupakan luka dan patah tulang terkontaminasi
13.tujuan penanganan ialah tercapainya faal tanpa gangguan, yang berarti:
14.untuk anggota gerak atas: faal tangan, walaupun terjadi pemendekan atau
dislokasi di dalam batas tertentu
- untuk anggota gerak bawah: berdiri stabil dan berjalan sendiri tanpa nyeri;
pemendekan sedikit dapat diterima
15.berikan perhatian dan penanganan kepada penderita sesuai dengan kepribadiannya.
16.pemeriksaan Roentgen terdiri atas dua foto yang diambil dari dua arah; sebaiknya
foto ini juga diperiksa oleh anda sendiri, karena andalah yang kenal sang
penderita

Fase penyembuhan fraktur
1.Fase hematom
2.Fase proliferasi
3.Fase pembentukan callus
4.Fase konsolidasi
5.Fase remodelling

Penyembuhan patah tulang
A. Hematom segera setelah cedera
1. periost,
2. hematom,
B. Pembentukan kalus,
C. Penyatuan tulang,
D. Konsolidasi dan proses swapugar.

KOMPLIKASI PATAH TULANG
A.Komplikasi segera
1.Lokal
a.kulit: abrasi, laserasi, penetrasi
b.pembuluh darah: robek, Compartemen syndrome (Volk's ischemia)
c.sistem saraf: sumsum tulang belakang, saraf tepi motorik dan sensorik
d.otot
e.organ dalam: jantung, paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), kandung kemih
(pada fraktur pelvis).

2.Umum
a.rudapaksa muitipel
b.emboli lemak
c.syok: hemoragik, neurogenik

B.Komplikasi dini
1.Lokal
a.nekrosis kulit, gangren, sindrom kompartemen, trombosis vena, infeksi sendi,
osteomielitis

2.Umum
ARDS, emboli paru, tetanus

C.Komplikasi lama
1.Lokal
a.sendi: ankilosis fibrosa, ankilosis osal
b.tulang:
1.gagal taut / taut lama / salah taut
2.distrofi refleks
3.osteoporosis pascatrauma
4.gangguan pertumbuhan
5.osteomielitis
6.patah tulang ulang
c.otot/tendo: penulangan otot, ruptur tendon - saraf: kelumpuhan saraf lambat

2.umum
a.batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tempat tidur)


DISLOKASI :

Dislokasi adalah keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya.
Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera.

Diagnosis :

1.Anamnesis

a.Ada trauma
b.Mekanisme trauma yang sesuai, mis: trauma ekstensi dan eksorotasi pada
dislokasi anterior sendi bahu
c.Ada rasa sendi keluar
d.Bila trauma minimal, hal ini dapat terjadi pada dislokasi rekurens atau habitual

2.Pemeriksaan klinis

a.Deformitas
1.Hilangnya tonjolan tulang yang normal, mis: deltoid yang rata pada dislokasi bahu
2.Pemendekan atau pemanjangan (mis: dislokasi anterior sendi panggul)
3.Kedudukan yang khas untuk dislokasi tertentu, mis: dislokasi posterior sendi
panggui kedudukan panggul endorotasi, fleksi, clan aduksi.

b.Nyeri
c.Functio laesa, misalnya bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu.

3.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologi untuk memastikan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur.

4.Penatalaksanaan
a.Lakukan reposisi segera.
b.Dislokasi sendi kecil dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anestesi,
misalnya dislokasi siku, dislokasi bahu, dislokasi jari (pada fase syok).
Dislokasi bahu,siku, atau jari dapat direposisi dengan anestesi lokal dan obat
penenang misalnya valium.
c.Dislokasi sendi besar, mis: panggul memerlukan anestesi umum.


Beberapa contoh dislokasi :

A.Luksasi rahang bawah ke depan akibat menguap atau membuka mulut lebar. Luksasi ke
belakang biasanya disebabkan cedera dari depan dan sering disertai patah, leher
tulang rahang bawah,
B.Dislokasi antara korpus vertebra. Spondilolistesis traumatik memang sefalu
disertai dengan patah tulang prosesus artikularis dan penderita terancam cedera
lintang sumsum belakang,
C.Luksasi tulang lunatum merupakan cedera berat di pergelangan tangan,
D.Luksasi sendi bahu ke depan merupakan dislokasi yang sering ditemukan karena
kedangkalan mangkok sendi, kelonggaran simpai sendi, dan lingkup gerak sendi bahu
yang luas,
E.Dislokasi panggul lebih jarang ditemukan karena mangkok sendi amat dalam, simpai
sendi lebih sempit dan kokoh dan lingkup gerak lebih terbatas bila diban¬dingkan
dengan sendi peluru bahu,
F.Luksasi tibia talus ke dorsal merupakan trauma berat yang mem¬butuhkan imobilisasi
lama setelah reposisi, karena sendi ini merupakan sendi yang harus menopang beban
berat besar,
G.Dislokasi siku ke depan,
H.Dislokasi lutut ke depan.

Ns.Eka Dedy Prasetyawan, S.kep

PELAYANAN KESEHATAN SITUASI KHUSUS

Definisi :

Pelayanan Kesehatan Situasi Khusus Adalah suatu situasi/kondisi atau kegiatan-kegiatan legal terencana yang sifatnya massal dan jelas penanggung jawabnya, bisa oleh pemerintah, swasta, perhimpunan profesi, organisasi massa ataupun masyarakat, dalam keterkaitannya dengan upacara-upacara agama, adat, festival atau pekan raya , dimana pada peristiwa atau kegiatan tersebut melibatkan sejumlah besar orang minimal 1000 orang pada suatu tempat tertentu, dalam Warna Tekskurun waktu minimal 3 hari

Latar Belakang :

1. UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 11 : Kesehatan Matra merupakan salah satu upaya kesehatan dari 15 upaya yang ada, dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyaraka.

2.Adanya kebutuhan / tuntutan orang untuk tetap sehat selama ia berada di dalam
lingkungan yang berubah drastis.


Jenis Situasi Khusus :

1. Situasi khusus yang bergerak ( mobile ):

a. Arus Mudik Lebaran
b. Natal dan Tahun Baru

2. Situasi khusus yang terlokalisir ( statis ):

1. upacara keagamaan;
2. upacara adat;
3. kegiatan festival ( seni, budaya dll ) ;
4. pesta olah raga;
5. kampanye pemilihan umum;
6. pengungsi di lokasi pengungsian.

Landasan Hukum :

1. UU No. 4 Tahun 1984 Ttg Wabah Penyakit Menular
2. UU No. 23 Thn 1992 Tentang Kesehatan
3. UU No. 32 Thn 2000 tentang Pemerintah Daerah
4. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Thn 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan
Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi
5. Kepmenkes RI No. 1215/Menkes/SK/XI/2001 tentang Pedoman Kesehatan Matra.

Tujuan :

1.Mengurangi dampak kejadian situasi khusus (angka kesakitan,
kematian dankecacatan pada masyarakat yang terpajan).

2.Meningkatkan kondisi masyarakat terpajan dalam kejadian
situasi khusus agar tetap sehat.

Sasaran Pelayanan :
1.Masyarakat yang terlibat langsung dalamkegiatan/peristiwa;
2.Masyarakat disekitar kegiatan/peristiwa;
3.Penyelenggara kegiatan;

Masalah-masalah Kesehatan Dalam Situasi Khusus :

1.Stress fisik dan mental akibat perubahan lingkungan dan
kegiatannya
2.Penyakit-penyakit saluran pencernaan
3.Penyakit menular berpotensi KLB
4.Kasus-kasus traumatologi (asfiksia, cedera, dll) akibat
faktor fisik dan mekanik(berdesak-desakan).

Unit Terkait :

1.Pusdokes POLRI
2.Diskes TNI Angkatan Darat
3.Diskes TNI Angkatan Laut
4.Diskes TNI Angkatan Udara
5.Departemen Perhubungan
6.Departemen Agama
7.Dinas Kesehatan Propinsi
8.Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
9.Kantor Kesehatan Pelabuhan
10.Balai Teknik Kesehatan Lingkungan
11.Organisasi Profesi misalnya IDI, PPNI,HAKLI,PAEI dll.
12.NGO / LSM dalam bidang kesehatan misalnya Perhimpunan Kesehatan 13.Wisata Indonesia
(PKWI), Jasa Raharja Kwarnas Pramuka dl.
14.Pemerintah Daerah setempat
15.Rumah Sakit Pemerintah / swasta
16.Palang Merah Indonesia